Jika ada yang selingkuh…

Dalam era digital seperti sekarang ini selingkuh semakin mudah terjadi. Tidak adanya batasan dalam teknologi memungkinkan perselingkuhan bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan suami atau istri yang tidak pandai menjaga pandangan maka sudah dipastikan telah selingkuh.

Kasus perselingkuhan jika suami pelakunya maka istri akan menjadi bimbang. Karena ia bukan makhluk egois yang pergi begitu saja tanpa mengingat anaknya. Lain halnya jika yang selingkuh istri, maka akan sangat jarang suami yang mau memaafkan. Apa penyebabnya?

Suami maupun istri sesungguhnya bukan milik kita. Mereka milik Allah. Sekeras apapun kita memantau suami atau istri kita supaya tidak selingkuh tetap akan terjadi jika iman mereka lemah. Karena hanya imanlah yang membuat seseorang menghindari perselingkuhan.

Selain itu, pendidikan dan adatlah yang membentuk pribadi dan pemikiran dari seseorang. Selama ini banyak lelaki yang menyalahkan istrinya ketika ia selingkuh. Misalkan karena kurang perhatian, istri tidak cantik, istri tidak ada saat dibutuhkan suami. Lelaki dengan keegoisannya tetap menyalahkan istri dari dalam hatinya maupun secara langsung.

Lalu jika istri selingkuhpun alasannya tetap sama juga, suami kurang perhatian, suami jarang dirumah, suami tidak mampu memenuhi kebutuhan istri dan lain sebagainya. Kenyataannya keegoisanlah yang bicara.

Lalu bagaimana dengan korban yang diselingkuhi? Kecewa, sakit hati, hancur, bahkan ada yang ingin bunuh diri. Akan menjadi sangat buruk ketika si korban perselingkuhan malah membalas. Rumah tangga yang dibangun akan menjadi malapetaka.

Dalam masyarakat, jika suami selingkuh maka istri diminta memaafkan dan bersabar. Tapi jika istri yang selingkuh maka talak akan segera dijatuhkan. Dimana keadilan? Tak perlu membahas itu. Allah lah yang akan menunjukkan segalanya. Cepat atau lambat kebenaran akan muncul kepermukaan pada saat yang tepat.

Perselingkuhan merupakan kasus yang kerap kali terjadi. Karena salah satu pihak atau keduanya tidak menyandarkan pernikahannya pada Rabb sang pengatur segalanya. Tidak adanya keikhlasan menerima kekurangan dari pasangan.

Lalu bagaimana sikap istri ketika suaminya selingkuh? Hal itu bergantung pada ketahanan hati si istri. Jika mampu memaafkan, maka maafkanlah. Namun jangan terlalu pengasih, tetap tegas dan beri peringatan keras. Jika tidak mampu menahan maka lepaskanlah. Begitupun sebaliknya jika si istri yang selingkuh.

Agar pernikahan menjadi sakinah, mawwadah, warohmah, maka lembutkanlah hati, turunkanlah ego, dan takutlah pada adzab Allah. Dengan begitu tak akan ada suami yang selingkuh sebagaimana tak akan ada istri yang selingkuh. Dan jika ada salah satu dari pasangan yang telah selingkuh, maka wajib bagi yang lain untuk menerangkan adzab Allah padanya. Jika ia tersadar maka berilah kesempatan, tapi jika diulangi maka lebih baik diakhiri. Karena seseorang yang dengan mudah berkhianat maka akan berkhianat lagi dengan mudah pula. Tinggalkanlah sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

Semoga Allah memberi kekuatan iman kepada semua pasangan suami istri yang menikah untuk beribadah dan mengharap ridho-Nya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s