BERCANDA DALAM ISLAM

Persaudaraan sesama muslim itu seperti satu tubuh jika kaki sakit maka mata akan menangis, tangan akan menyeka apa yang sakit, dan otak akan berpikir mencari obatnya.IMG_20160816_150543 Jika ada seorang muslim yang ditimpa musibah, maka tugas kita sebagai saudaranya adalah sebisa mungkin meringankan bebannya atau paling tidak menenangkan hatinya dengan cara menghiburnya.

Berikut ini adab yang perlu diperhatikan dalam bercanda.

  1. Tidak mengandung hinaan

Islam mengatur segala aspek kehidupan. Termasuk bagaimana menghibur saudara kita yang sedang murung. Menghibur saudara tidak harus dengan lelucon yang berlebihan apa lagi yang mengandung hinaan terhadap orang lain. Rasulullah juga orang yang suka bercanda namun candaan Rasulullah tidak menyakiti atau mengandung hinaan seperti candaan pelawak-pelawak yang sering kita lihat di acara komedi. Dan sayangnya, malah disambut tawa renyah penonton bayaran didalamnya. Candaan yang mengandung hinaan merupakan bentuk mengolok-olok dan Allah tidak menyukai orang yang mengolok-olok saudaranya sendiri.

  1. Tidak mengandung kebohongan

Ketika bercanda pun tidak dihalalkan berbohong. Karen bohong yang diperbolehkan hanya dalam tiga hal yakni bohongnya suami kepada istrinya dengan maksud agar tidak menyakiti hatinya, bohongnya seseorang untuk melindungi jiwa seseorang, dan bohongnya dan bohong untuk mendamaikan dua saudara yang tengah berselisih. Selain dari itu, tidak diperbolehkan berbohong. Bahkan Rasulullah mengecam orang yang bercanda dengan dusta didalamnya.

  1. Tidak berkata jorok atau kasar

Didalam bercanda baik yang dilakukan oleh pelawak maupun oleh teman-teman kita sendiri tak lepas dari umpatan kasar atau kata-kata yang tidak senonoh. Bercanda dengan kata-kata kotor biasa digunakan oleh sekelompok muda mudi yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Islam mengajarkan kita untuk berkata yang baik atau diam.

Maka bercanda dengan kata-kata yang jorok, kotor, tidak senonoh jelas bukan merupakan akhlak karimah seorang mukmin. Oleh karena itu hindarilah bercanda yang mengandung kata-kata yang tidak baik apapun tujuannya baik itu untuk sekedar menghibur kesedihan teman atau malah menjadi profesi yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

  1. Berlebihan dalam bercanda

Dalam hadist disebutkan bahwa
Barang siapa yang sengaja membuat orang lain tertawa berlebihan akan masuk neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.)
“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.”
Kenapa demikian?
Banyak tertawa mematikan hati. Tawa yang terbahak-bahak merupakan sifat setan yang tak pantas kita tiru. Rasulullah pernah tertawa hingga nampak geligi geliginya tapi tidak dengan suara keras hingga terpingkal-pingkal. Bercanda yang menyebabkan pendengarnya terbahak-bahak akan menyebabkan mereka lalai terhadap diri mereka sendiri. Bahkan asyiknya bercanda menyebabkan mereka menunda pekerjaan-pekerjaan mereka dan memilih untuk tertawa bersama. Naudzubillah. Tertawa yang berlebihan bahkan bisa membuat seseorang mati mendadak.

  1. Tidak mengandung ghibah

Jika seseorang membicarakan orang lain dibelakangnya maka itu termasuk ghibah, bahkan jika apa yang dikatakannya salah maka itu termasuk fitnah. Sudah sering kita lihat program reality show yang berisi candaan para host dan isinya adalah ghibah. Tanpa rasa takut mereka membicarakan aib orang lain dan menjadikannya bahan candaan bahkan didukung dengan reka adegan yang membuat para penonton bayaran tertawa terbahak-bahak. Tidak ada manfaat yang dapat diambil dari tontonan yang mengandung ghibah. Didalamnya ada bisikan-bisikan setan sang penghasut yang tidak akan membiarkan satupun mangsanya tidak terhasut. Tidak ada yang baik dalam ghibah. Bahkan sudah sangat kita kenal bahwa ghibah itu sama saja dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tidakkah kita merasa jijik? Bayangkanlah tangan kanan kita sedang memegang bangkai yang bau dan penuh ulat dan lendir. Tegakah kita memasukkannya kedalam mulut kita? Naudzubillah.

Sesunggguhnya menghibur seorang mukmin dinilai baik oleh Allah Subhanahu wata’ala. Namun, akan menjadi malapetaka apabila kita lalai dalam menjaga adab dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Maka bercandalah sewajarnya. Tertawalah sebagaimana tawanya Rasulullah. Dan hindari perbuatan-perbuatan tidak baik meski hanya bercanda.

Amal perbuatan yang paling disukai Allah sesudah yang fardhu (wajib) ialah memasukkan kesenangan ke dalam hati (menghibur hati) seorang muslim. (HR. Ath-Thabrani)

Islam telah mengatur sebaik-baiknya kehidupan manusia dari detik mata terbuka hingga terpejam kembali. Bahkan tidurpun ada adabnya. Jagalah adab dalam bercanda karena islam telah mengaturnya dengan aturan yang sempurna. Wallahua’lam bishawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s