Beratnya Memaafkan

permintaan-maaf_2015-01-12-15-50-37_sorry_
Enter a caption

Siapa diantara kita yang tidak pernah sakit hati? Tentu tidak ada. Sekecil apapun hati kita pasti pernah merasakan sakit. Entah itu karena ucapan orang lain, perilaku orang lain, kecewa pada diri sendiri, atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hati yang sudah tersakiti akan sulit untuk disembuhkan. Meski sudah sembuh pun maka bekas lukanya akan ada. Dan akan mudah untuk terpancing kembali tentang ingatan peristiwa yang membuat hati kita sakit.

Hati atau qalbu memang sangat lembut. Mudah terluka. Sedikit goresan saja akan terasa perih. Hakikatnya hati memang dicipta untuk mengelola berbagai rasa bahkan lebih banyak dari rasa yang bisa dirasakan lidah. Manis, pahit, asam, asin merupakan rasa yang dirasakan oleh lidah tapi apa yang dirasakan hati jauh dari itu. Jika bahagia, maka hati akan seperti musim semi indah dimana-mana. Tapi jika hati sedang sedih, maka kesedihan akan menyelimutinya hingga hanya tersisa kegelapan. Hati yang telah kecewa akan berat memaafkan dan meski memaafkan pun tak akan bisa melupakan.

Seorang istri adalah wanita yang berhati lembut. Tapi ia memiliki hati yang lapang. Hingga apabila ia kecewa dengan suaminya maka ia akan memaafkan secara lahir. Tapi belum tentu secara hati. Ia akan menangis diam-diam dalam do’anya karena kiatnya imannya. Jika tiada iman maka perbuatan fatal seperti bunuh diri atau membunuh menjadi pilihannya. Pernah suatu ketika seorang istri diselingkuhi oleh suaminya, karena memaafkan terasa begitu berat baginya maka ia melakukan perbuatan sadis dengan cara memotong kemaluan suaminya. Astaghfirullah….
Itulah hati wanita yang berat memaafkan.

Seorang anak yang memusuhi ibunya karena rasa sakit hati akibat perlakuan ibunya hingga membuat sang anak tak pernah datang kerumahnya selama bertahun-tahun. Siapakah yang harus disalahkan? Entahlah. Memaafkan memang berat bagi hati yang telah hancur. Perlu waktu yang sangat panjang bagi hati itu untuk kembali menjahit robekan-robekan yang ada
padanya. Dan ternyata menjahit pun menggunakan tusukan-tusukan jarum yang tajam. Lalu kapan hati itu akan sembuh? Dan kapan akan ada maaf?

Suami yang telah dikhianati istri, bukan hanya terluka hatinya tetapi juga harga dirinya. Oleh karena itu, sangat jarang kita menemukan lelaki yang mau memaafkan istri yang telah berselingkuh namun begitu banyak lelaki yang ingin bahkan terkesan memaksa dimaafkan karena telah melakukan pengkhianatan. Ya itulah hati kebanyakan laki laki.

Rasulullah pernah dicaci dan dihina oleh seorang pengemis buta Yahudi. Namun Rasulullah memelihara hatinya dari rasa rasa sakit. Beliau hampir setiap hari menemui lelaki pengemis buta itu dipasar, menghiburnya dan menyuapinya makanan dengan penuh kasih sayang. Hingga beliau wafat, sang pengemis itu tidak tahu bahwa orang yang teramat baik baginya itu adalah Rasululullah. Hinaan dan cacian itu tidak membuat Rasulullah membencinya, beliau memaafkan bahkan berbuat baik kepada orang yang menghinanya.

Amat berat menggapai kemuliaan seperti itu. Hingga Allah Subhanahu wata’ala pun mengatur masalah maaf memaafkan tersebut didalam Al Qur’an. Bahkan Allah menghalalkan qisas bagi mereka yang terdzalimi secara fisik sebagai bentuk keadilan dariNya. Mata dengan mata, tangan dengan tangan, bahkan nyawa dengan nyawa bagi keluarga yang menginginkan diyat atau denda maka akan dikabulkan juga. Tapi memaafkan akan memperoleh limpahan barokah dari Allah.

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa( dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al- Maidah: 45)

Memaafkan memang berat terlebih bagi yang luka dihatinya terlalu dalam. Untuk itu dibutuhkan keberanian dan keikhlasan yang sangat besar. Dan dalam beberapa hal memerlukan pula waktu yang lama. Rasulullah berpesan kepada umatnya bahwa kita tidak boleh mendiamkan saudara kita lebih dari 3 hari. Seperti dalam hadist:
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ ، يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ ))
“Dari Abî Ayûb al-Anshâriy, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda; ‘Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam diamana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam’.(HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Al-Wâfiy fi al-Syarh al-Arba’în al-Nawawiyyah, hal.289 )

Semoga Allah memberi kita kelapangan hati agar mampu ikhlas memaafkan. Meski memaafkan memang terasa berat tapi ada nilai didalamnya. Ketika kita memaafkan maka saat itulah hati kita begitu mulia karena mampu melampaui ego kita. Pupuklah hati agar semakin lapang dan mampu memaafkan sebesar apapun kesalahan orang lain kepada kita. Selanjutnya, biar Allah yang menentukan hukumnya. Memaafkan akan membuat hati kita lebih cantik. Dan akan mengantarkan kita ke tatanan jiwa yang lebih elegan.

Wallahua’lam bishawab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s