Mari Nikmati Kesedihan

Dimkan-dan-bagikan-300x225Tidak ada yang tidak pernah merasakan kesedihan bukan? Hidup terus menerus bergulir. Sedih dan bahagia bergantian datang. Berkejar-kejaran memainkan peranannya dalam kehidupan manusia. Tak pernah ada yang tahu dimasa mana dia akan sedih dan dimasa mana dia akan bahagia. Itu semua misteri kehidupan yang hanya akan dipahami ketika kita telah melewatinya.

Kenapa Allah memberi kesedihan?

Siapa yang tahu diri kita lebih baik dari Allah. Dia lebih mengenal kita dari pada kita sendiri. Dia memahami kita lebih baik dari siapapun. Dia yang maha tahu masa lalu dan masa depan. Bahkan dia ingat semua kejadian yang telah kita lupakan.

Ada yang bilang kesedihan itu ujian. Yah….ujian untuk orang-orang yang beriman. Semakin besar iman maka semakin besar ujian. Siapakh yang paling berat ujiannya?….siapa lagi selain Rasulullah. Nabi Muhammad sudah kehilangan ayahnya bahkan sebelum ia dilahirkan kedunia. Kehilangan ibunya saat masih kecil. Kesedihan yang luar biasa adalah ketika kehilangan orang tua. Ujian Nabi Muhammad tidak berhentu sampai disitu saja. Kehilangan harta, istri, anak, dan sahabat silih berganti dalam hidupnya. Ia juga harus dihina, dicaci, diusir, dan banyak kejadian buruk lain.

Lalu siapakah kita?

Apakah kita berani merasa baik untuk tidak diberi kesedihan. Bahkan Rasulullah, para Nabi orang-orang beriman, para alim ulama, mereka semua diberi kesedihan sebagai ujian dariNya. lalu siapakah kita? Apakah kita punya hak untuk hidup indah-indah saja. Hidup ini adalah rangkaian suka dan duka yang silih berganti.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

Bagaimanakah seharusnya kita mengahdapi kesedihan? Setiap kali sedih kita akan menangis, mengeluh, bingung bahkan marah. Itu adalah reaksi alami manusia. Ketika ada hal yang menyakiti hatinya maka air mata akan menjelaskan rasa sakitnya. Kesedihan memang menyakitkan. Kebanyakan orang menanggapi kesedihan dengan ratapan pilu. Bahkan bisa menangis meraung-raung sampai pingsan. Bisakah kita menanggapi kesedihan dengan cara yang berbeda? Bisakah kita menyingkirkan prasangka buruk ketika mendapat kesedihan?

Kesedihan memang buruk tapi cobalah untuk menikmatinya. Menikmati kesedihan seperti menikmati secangkir kopi hitam dipagi hari. Rasanya yang pahit akan membuka mata kita. Aromanya yang khas akan menyadarkna kita. Dan warnanya yang hitam pekat menjelaskan kepada kita bahwa tidak selamanya kesedihan itu buruk. Kopi hitam memiliki rasa manis. Lidah yang terbiasa dengan rasa manis akan merasa kaget dengan pahitnya. Tapi lidah yang terbiasa pahit akan menemukan manisnya. Begitu juga dengan kesedihan yang kita alami. Jika kita menyangkalnya, menolaknya, atau memakinya maka hati kita akan terasa semakin sakit. Akan berbeda jika kita menerimanya, menyambutnya, dan mengikhlaskannya maka kesedihan tidak akan menyiksa kita. Kita memang tetap menangis, mengeluh, atau bahkan marah. Tapi cobalah untuk berpikir berbeda. Nikmatilah kesedihan sebagai proses kehidupan.

Ingatlah bahwa ini hanyalah fase kehidupan. Setiap orang harus melewati fase buruk dalam hidupnya. Karena disanalah dia akan belajar menyukuri apa yang telah ia nikmati dalam hidupnya. Kesedihan menjelaskan berbagai hal yang tidak bisa dijelaskan oleh tawa. Ada hal-hal dalam tawa yang melenakan dan membuat kebanyakan orang lupa siapa dirinya. Sedangkan kesedihan menerangkan bahwa kita adalah manusia biasa yang memiliki banyak kesalahan. Kesedihan akan meminta memori kita untuk mengingat kesalahan kita, kesalahan yang lupa kita mintakan ampun kepadaNya. Kesalahan yang tidak kita ketahui akibatnya.

Nikmati kesedihan dengan mohon ampun kepadaNya, mendekatiNya dengan menyebut namanya dan menyerahkan segala sesuatu kepadaNya. Minta Dia memutuskan yang terbaik untukmu dan hidupmu. Karena hanya Dia dengan segala ilmu yang tak terbatas akan mengatur apa yang tidak bisa kita atur dan mengendalikan apapun yang diluar kendali kita. KepadaNyalah segalanya kembali dan dariNyalah segala sesuatu berasal. DariNya, olehNya, dan untukNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s