Istri tidak boleh dicerai jika…..

Didalam kehidupan tidak semuanya indah pasti akan ada saat-saat dimana kita mengalami hal yang tidak menyenangkan. Apalagi dalam biduk rumah tangga. Perjalanan terpanjang manusia adalah dalam rumah tangga. Dan itupun hanya ketika orang itu mampu mempertahankan rumah tangganya sehingga menjadi episode panjang.
images(8)
Namun, kehidupan rumah tangga memang tidak mudah. Didalamnya terdapat banyak pengorbanan. Kadang, ada konflik berat yang tak bisa diselesaikan. Hingga banyak pasangan suami istri yang putus asa dengan pernikahan mereka. Dan perceraian akhirnya menjadi salah satu jalan yang dipilih. Untuk itulah Allah memberikan izinNya dalam masalah perceraian meski hal ini begitu dibenci olehNya.

Ada saat dimana istri membuat kesal suami. Begitu banyak hal yang tidak disukai oleh suami. Dan kadang suami yang tidak memahami wanita dan tidak pandai menjaga emosinya bisa mentalak istrinya tanpa banyak berpikir. Allah telah mengatur perceraian dalam Al Qur’an dan hadist. Diantaranya seorang suami tidak boleh menceraikan istrinya dalam kondisi tertentu.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ

“Wahai nabi, apabila kalian hendak mentalak isteri-isteri kalian maka hendaklah kalian ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu…” (QS. At-Talak: 1).

Berikut ini adalah kondisi dimana seorang istri tidak boleh diceraikan oleh suaminya.

  1. Ketika istri sedang haid.

Istri yang haid cenderung emosional. Itu terjadi karena hormon yang tidak seimbang didalam tubuhnya. Kadang dalam masa ini istri tidak bisa mengendalikan amarahnya. Hormon yang tidak stabil akan menciptakan kondisi tubuh yang tidak nyaman seperti pusing, mual, muntah, sakit pada bagian tubuh tertentu, atau berbagai keluhan lain yang dialami oleh istri yang sedang dalam masa haid. Maka dalam keadaan ini istri tidak boleh diceraikan sebab jika ia melakukan kesalahan atau mengatakan sesuatu yang menyinggung suami bukan karena si istri itu berkelakuan buruk tapi lebih karena ia tidak bisa mengendalikan kecenderungan hormonnya yang fluktuatif.

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya.” (HR Muslim)
Mentalak istri pada waktu haid atau nifas termasuk talak bid’ah. Mentalak istri ketika haid hukumnya haram, berdasarkan dalil Alquran, sunah dan sepakat ulama. Tidak ada perselisihan tentang haramnya cerai ketika haid (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Muyasarah, 5:379)

  1. Setelah suci namun telah digauli dalam masa suci itu.

Istri yang telah suci dari haid kemudian dicampuri oleh suaminya selama masa suci itu juga tidak boleh diceraikan. Sebabnya adalah si suami telah menunaikan hajatnya terhadap istrinya. Dalam arti telah mengambil keuntungan dari istrinya. Maka suami tidak boleh semena-mena menceraikannya padahal dia telah memperoleh sesuatu yang baik dari istrinya dan istrinya telah memberinya. Selain itu juga istri akan bingung menghitung masa iddahnya dan dalam pernyataan apakah dia hamil atau tidak.

Sebagaimana ibnu Umar pernah menceraikan istrinya lalu abu bakar bertanya tentang ini kepana Nabi dan nabi menjawab:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

“Perintahkan dia untuk merujuk istrinya, kemudian tahan sampai suci, kemudian haid lagi, kemudian suci lagi. Selanjutnya jika dia mau, dia bisa pertahankan dan jika mau dia bisa menceraikannya sebelum disetubuhi. Itulah iddah yang Allah perintahkan agar talak wanita dijatuhkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Mentalak dengan 3 kali talak dalam satu waktu

Memberikan talak harus ada tahapnya. Bahkan memutuskan mentalak seorang istripun tidak boleh terburu-buru. Sebelum memberikan talak kepada seorang istri, si suami harus memberikan nasehat terlebih dahulu, jika itu tidak menyadarkan maka suami boleh memberi hukuman berupa pisah tempat tidur, jika hal itu tidak bisa juga maka suami boleh memukulnya. Memukul pun tidak boleh dengan keras dan tidak boleh pada bagian wajah. Ketika semua peringatan sudah dilakukan dan tidak mampu memperbaiki keadaan maka talak boleh dilakukan. Suami berhak memberikan talak satu kepada istrinya sesuai dengan syari’at yang telah diajarkan oleh Allah melalui Rasulullah saw.

Meski terdapat permasalah dalam hubungan suami istri, namun hal itu tidak lantas menjadi alasan suami berhak mencerai istri tanpa alasan syar’i. Sebelum menceraikan istri maka wajib bagi suami untuk mengetahui kondisi tersebut kemudian menimbang dengan baik keputusan yang akan diambil olehnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s